About Me

My photo
ordinary. imperfect. sanguine. melancholic. artistic.

Saturday, July 4, 2009

Marilyn oh Marilyn... An icon. I adore.

The Immortal Marilyn Monroe...

Hingga kini, 40 tahun sejak kematiannya, Marilyn Monroe adalah perempuan yang masih menggoda, menjadi takaran mewah sebuah daya tarik seksual. Tentu saja, Marilyn tidak hanya sebagai simbol seks, bintang, atau sekadar ikon kebudayaan.

Dengan terminologi yang kerap dimetaforakan untuk selebritas, tapi teraplikasikan secara literal untuknya, Marilyn adalah seorang dewi. Bahkan sejak kematiannya yang misterius pada usia 36 tahun di tahun 1962, kebangkitannya masih dinanti. Foto-foto barunya masih terus dicetak dan biografinya terus ditulis. Faktanya, begitu dashyat pengaruh Marilyn mendorong orang untuk menulis buku tentang dia.

Dia dimanfaatkan pria-pria yang mengakui mencintainya, tapi sesungguhnya hanya menafsuinya, dimanfaatkan studio yang memperkerjakannya, digunakan publik yang menyembah dan lantas mencampakkannya, bahkan dia digunakan oleh dirinya sendiri.

Kematiannya, meskipun bunuh diri, kecelakaan, atau apapun yang diyakini banyak orang, adalah hasil sebuah persekongkolan jahat dari konsekuensi hidupnya. Marilyn pernah menjadi lukisan seksi, tapi kini menjadi lukisan tragedi.

Tapi kisah hidup Marilyn bisa dibaca dengan cara lain. Tidak mundur dari kematiannya, tapi berawal dari kelahirannya. Ini akan menghasilkan gambaran yang sangat berbeda. Marilyn yang tidak terlalu terbebani dibanding sosok Marilyn dalam interpretasi biografi dan novel.

Dengan cara ini Marilyn bisa dipandang sebagai sosok yang sangat berkuasa dari pada sosok tak tertolong, mengontrol daripada termanipulasi. Dia juga bisa menjadi seksual tanpa harus tragis. Dia bisa menjadi Marilyn yang baru, atau Marilyn lama yang ditemukan kembali.

Dalam Book of Marilyn, seks dan tragedi begitu dihubungkan. Masa kecil Marilyn penuh rasa ketakutan.Dia dilahirkan dengan nama Norma Jeane Baker/Mortenson. Norma Jeane adalah anak haram. Dia tidak pernah mengenal ayahnya,dan sejumlah penulis biografi meyakini sepangjang hidupnya dia coba mencari pengganti. Kekerasan seksual yang dia alami semasa kecilnya juga seperti tambahan adegan mengerikan dalam kehidupannya.

Menurut Book of Marilyn, untuk lari dari kebosanan dan perasaan tak diinginkan, Norma Jeane memendam fantasi menjadi bintang film. Sebagai pemain kontrak, menurut sebagian besar penulis biografi, untuk mendaki jalannya ke puncak, Marilyn berhubungan seks dengan beberapa eksekutif film dan agen pencari bakat.

Marilyn lebih dari sekadar simbol seks. Seperti banyak bintang lainnya, kehidupannya pun difilmkan. Dipandang sebagai wanita 1950-an yang paling diinginkan dunia. Popularitasnya terus tumbuh seiring cerita hidupnya dibuat. Rumor konspiratif yang menyeruak segera setelah kematiannya yang disebut-sebut disengaja atau overdosis obat penenang tidak menggeser posisinya dari hati masyarakat Amerika.

Jalinan asmara Marilyn dengan Presiden John F Kennedy dan juga dengan adik JFK, Robert Kennedy, lebih problematik. Banyak yang menduga, Marilyn mungkin dihabisi komplotan sayap kanan yang ingin mempermalukan klan Kennedy atau oleh klan Kennedy sendiri yang ingin membungkam Marilyn. Semuanya, menjadi kepingan dalam penderitaannya, masa kecilnya yang tragis, kegilaan ibunya, pria-pria serakah, dan ketidaknyamanan politis yang dia alami.

Hingga kini, penderitaannya masih menjadi kulit dibanding memiliki makna. Hampir semua pendiagnosa budaya yang menilik hidupnya, mantap dengan ide bahwa Marilyn adalah contoh utama kebingungan identitas dalam budaya modern. Dan kebingungan itu menjadi sumber utama tragedi hidupnya. Norma Jeane dan Marilyn Monroe sebenarnya tidak harmonis. Di saat ia mentransformasikan dirinya, dan membiarkan yang lain mentransformasi dirinya dari Norma Jeane yang alami, kemayu, dan melankolis menjadi perempuan yang matang mendunia, saat itu juga dia kehilangan dirinya dan terkatung-katung dalam kebebasan seorang terkenal. Dia tidak menjadi Norma Jeane juga tidak Marilyn Monroe.

Terpecah dalam dua kepribadian, Marilyn tidak akan bisa utuh dan akhirnya mati untuk mengejar itu. Para penganalisisnya pun menjadikan dia sebagai hikayat peringatan tentang apa yang terjadi jika seseorang tidak sepenuhnya menjadi sebuah sosok. “ Dia akan dihancurkan oleh pertarungan antara kesucian dan sinisme, cinta dan seks, terang dan gelap, Norma Jeane dan Marilyn…”

“Marilyn Monroe” tidak hanya identitas yang terpisah. Dia juga menjadi benda artifisial baru – makhluk berambut pirang, bercat kuku, bibir merah, dan suara berdesah yang menggoda. Bahkan hidung, rahang dan giginya dipercantik lagi. Setelah diperbaharui dia pun menjual dirinya. Terutama daya pikat seksualnya. Inilah yang kemudian mengubah dia jadi peringatan tentang apa yang terjadi bila seseorang memandang dirinya sebagai objek kesenangan jenis kelamin yang lain. Yang terjadi kemudian, seperti yang dilihat para feminis pengagumnya, Marilyn adalah seseorang yang berhenti hidup dan tinggal sebagai fantasi. Dari wanita untuk setiap pria, Marilyn, menjadi tidak dimiliki seorang pria pun.

“ Marilyn adalah wanita dengan kecantikan sangat bening yang menjadikannya sebagai ‘objek cinta’ jutaan pria kesepian dan yang tak terpuaskan, tetapi dia sebenarnya tidak pernah mempunyai teman kencan dalam hidupnya…”.

Tetapi sebenarnya, hal-hal yang dipandang tragis, oleh penggemar dan oleh Marilyn sendiri sebenarnya adalah kejayaan. Membuat terbelahnya Norma Jeane dan Marilyn disebut sebagai penghancuran terhadap dirinya.

Semasa hidupnya, media menggambarkan transformasi Norma Jeane menjadi Marilyn Monroe tidak lebih dari sebuah kehilangan identitas yang pincang. Melalui kerja keras dan kecerdikan, anak haram yang terpental dari satu rumah asuh ke rumah asuh lainnya itu berubah menjadi wanita paling didamba dan ternama di seluruh dunia – seorang Cinderella di dunia nyata. Ketika menjadi gadis impian dalam perasaan umum, dia menjadi gadis impian dalam perasaan lain, Marilyn adalah mimpi Amerika yang jadi kenyataan.

Apa yang dilihat para penulis biografinya sebagai komodifikasi, oleh Marilyn dan penggemarnya dilihat sebagai bentuk kebebasan dari represi seksual tahun 1950-an. Dan telah terbukti sendiri, akumulasi perhatian yang besar kepada Marilyn terfokus pada tubuhnya yang menggairahkan. Di masa orang begitu berhati-hati menyangkut seks. Dia tidak mencoba menyembunyikan keterlibatannya dalam sesi foto atau lakon telanjang.

Marilyn bukan perayu, penggoda, atau femme fatele. Marilyn adalah sesuatu yang baru dan berbeda. Dia mengambil sikap genit dalam majalah kurang berseni dan menjadikannya sebagai kecenderungan utama dalam perfilman Amerika.

Marilyn menjadi perempuan pirang bodoh di layar; prakteknya dia menciptakan peran dalam film seperti Gentlemen Prefer Blondes dan How to Mary A Millionare. Tapi di luar layar Marilyn menegaskan, ketika dia begitu bebas dan menggairahkan, dia tidak dungu. Dia membuat citra itu; bukan dia yang dibentuk. “Mereka pikir bisa mengatur saya agar sesuai dengan mereka, tapi saya yang menggunakan mereka untuk mengekspresikan diri saya”, kata Marilyn. Lewat pernyataan tadi kita dapat tahu bahwa Marilyn bukanlah perempuan murahan, tapi jadi simbol kekuasaan yang paling halus. Seorang perempuan berakal dan tahu menggunkannya untuk mengatur dunia yang begitu sulit. Kekuatannya, yang dia sebarkan sangat strategis, tidak mudah diserang, mengajak orang tertawa bersamanya, bukan menertawainya, dan itulah yang menjadikan dia seorang ikon.

Dia adalah aktris yang matang dan kecewa yang mencoba memaksakan kontrolnya atas sistem yang membelenggu wanita. Dan untuk memahami popularitasnya saat ini, tidak bisa melihat dia hanya sebagai korban. Marilyn Monroe harus dipahami sebagai seorang bintang dengan jalan pikir kuat yang memaksakan kepribadian dan kemauannya merayu dunia – dan ia begitu menikmatinya…

***
Sumber:
www.marilynmonroe.com
www.immortalmarilynfanclub.com
www.google.com
Playboy Magazine





"I knew I belonged to the public and to the world, not because I was talented or even beautiful, but because I had never belonged to anything or anyone else."
-Marilyn Monroe-

No comments:

Post a Comment